Malang - Perajin tempe dan tahu di Kampung Sanan, Kota Malang, tetap produksi meski harga kedelai impor naik.

Para perajin memiliki siasat menjual karena bahan baku yang mahal. Sebagian perajin memperkecil ukuran tempe dan tahu buatan mereka, agar tak merugi. Sebagian lain memilih menaikkan harga.

Ketua Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) Kota Malang, Chamdani mengatakan, kenaikan harga kedelai impor dirasakan sejak November 2020.

Ketika itu, kenaikan harga kedelai impor berkisar Rp 1.600 per kilogram. Saat ini, harga kedelai impor mencapai Rp 9.150 per kilogram. Padahal, harga kedelai saat normal sekitar Rp 7.250 hingga 7.600 per kilogram.

Meski begitu, para perajin tempe dan tahu tetap bertahan menggunakan kedelai impor. Faktor kualitas, kata Chamdani, menjadi alasan perajin tak beralih ke kedelai lokal.

"Kalau untuk tempe (kedelai lokal) kurang bagus. Kalau untuk tahu mungkin lebih bagus. Permasalahannya kan sekarang petani sudah jarang tanam kedelai," jelasnya, Senin (4/1/2021).

Chamdani menjelaskan, para perajin di Kampung Sanan membutuhkan 17,5 hingga 20 ton kedelai per hari. Pasokan kedelai impor sebagai bahan baku tempe dan tahu itu didapat dari Amerika Serikat dan Argentina (tim/mrk).